Melindungi Anak dari Kekerasan Seksual

PSGA UIN Jakarta. Setiap orangtua pasti ingin melindungi anak-anak mereka dari kekerasan seksual. Sejak kasus kekerasan seksual yang terjadi di salah satu Taman Kanak-kanak (TK) di Jakarta, semakin banyak orangtua yang was-was dan khawatir mengenai para buah hati mereka.

Berdasarkan data Komnas Perlindungan Anak (PA), kasus kekerasan seksual yang menimpa anak-anak meningkat jumlahnya dari waktu ke waktu. Dari tahun 2010 ke tahun 2011saja, angka kenaikannya sudah lebih dari 100 kasus. Diantara lebih dari 2500 kasus kekerasan pada anak yang terjadi tahun 2011 lalu, mayoritas diantaranya atau sekitar 62,7% adalah kejahatan seksual yang dilakukan dalam bentuk sodomi, pemerkosaan, pencabulan, serta inses.

Data selanjutnya masih dari Komnas Perlindungan Anak, semester pertama 2013 kekerasan yang terjadi kepada anak-anak terus meningkat. Kasus kekerasan seksual terhadap anak menempati urutan pertama, sehingga Komnas Anak menetapkan tahun 2013 sebagai kondisi darurat nasional kejahatan seksual terhadap anak.

Ironisnya, alih-alih ancaman yang datang dari ‘luar sana’, kasus-kasus kekerasan seksual yang dialami anak-anak justru lebih sering terjadi di dalam lingkungan terdekat anak. Antara lain di dalam rumahnya sendiri, sekolah, lembaga pendidikan dan lingkungan sosial anak. Pelakunya adalah orang yang justru seharusnya melindungi anak, seperti orangtua, paman, guru, atau bapak/ibu tiri.

Tanggungjawab utama untuk melindungi anak-anak dari pelecehan seksual ada pada orangtua, bukan pada anak-anak. Sudah merupakan kewajiban orangtua untuk memberikan pendidikan dasar organ vital sejak dini kepada buah hati mereka. Penting bagi orangtua agar proaktif mendidik anak berani menolak dengan tegas atau meminta bantuan dari orang lain jika ada orang yang berbuat tidak senonoh seperti meraba atau menyentuh organ vital mereka.

Melalui kegiatan FGD parenting yang diadakan PSGA UIN Jakarta dengan tema “Melindungi Anak dari kekerasan Seksual” pada hari Selasa, 11 Agustus 2015, PSGA memberikan kajian mendalam tentang bagaimana kekerasan seksual itu muncul dan cara untuk mengatasi sekaligus mencegahnya. Acara yang diikuti dari perwakilan-perwakilan fakultas di UIN Jakarta, perwakilan LPM, guru TK dan guru PAUD di lingkungan UIN, serta perwakilan dari RS Syahid Jakarta. Narasumber dari acara ini adalah Sitti Evangeline Imelda Suaidy, M.Si, Psi dan Zulfa Indira Wahyuni, M.Psi, Psi.

Acara dibuka oleh wakil rektor bidang akademik, ibu Fadhilah Suralaga yang menyampaikan tentang perlunya pendidikan mengenai perlindungan bagi anak-anak karena melihat fenomena kejahatan pada anak yang semakin meningkat sekarang ini. Beliau juga berharap agar materi yang disampaikan tidak hanya sebatas pengetahuan saja namun dapat diaplikasikan dalam lingkungan masing-masing oleh setiap orang. Selanjutnya, pemaparan materi dimulai oleh narasumber pertama yaitu ibu Zulfa. Beliau membuka pemaparan materi dengan tayangan video mengenai kasus anak yang mengalami kekerasan seksual. Setelah itu dilanjutkan dengan penjelasan mengenai perlunya pendidikan seksualits pada anak sejak dini, dimana pemberian materi disesuaikan dengan usia anak. Selain itu, dapat dipelajari juga perlunya anak mengenal emosinya dan memeprcayai emosinya, dan berani untuk berteriak bahkan berbohong jika menghadapi situasi yang membuatnya tidak nyaman. Jika orangtua dapat mengajarkan hal-hal tersebut diharapkan anak dapat lebih melindungi dirinya.

Narasumber selanjutnya adalah ibu Evangeline yang lebih menyampaikan perlunya orangtua berbicara mengenai seks dengan anaknya, tentunya dengan berbagai tips dan trik, dan juga sesuai dengan usia anak. Orangtua sebaiknya tidak bereaksi secara berlebihan saat anak bertanya mengenai topik seputar seks, dan orangtua diharapkan dapat mengamati anak dengan sebaik mungkin, mengamati jika ada hal-hal yang mencurigakan yang tidak sesuai dengan usia tumbuh kembangnya. Anak saat ini mudah sekali terpapar pornografi yang bisa membawanya pada tindakan pornoaksi ataupun seks bebas atau kecanduan pornografi. Pemaparan yang disampaikan ibu Evangeline semakin membuat peserta tercengang saat ditampilkannya tulisan tangan dari anak-anak usia SD kelas 4,5,6 mengenai pertanyaan-pertanyaan seputar seks yang tidak sesuai dengan usianya.

Adanya FGD ini diharapkan peserta yang juga orangtua dan guru dapat mengaplikasikannya kepada anak-anak di rumah dan menyebarkannya kepada lingkungan terdekat. Penting dilakukannya kerjasama dari semua pihak, dimulai dari diri kita sendiri sebagai orangtua untuk dapat membentuk anak-anak kita sebagai anak yang tangguh, dapat melindungi dirinya dari berbagai kejahatan yang ada. Tidak lupa diiringi doa agar Allah senantiasa melindungi anak-anak kita, dan seluruh anak Indonesia.