Pencegahan dan Penanganan Bullying di Sekolah

PSGA UIN Jakarta. FGD Anak “Pencegahan dan Penanganan Bullying di Sekolah” diadakan pada 3 November 2013 bertempat di Ruang Rapat Biro AUK lt.2 Gedung Pusat Administrasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tujuan di lakukannya FGD ini adalah untuk menyikapi banyaknya peristiwa bullying yang terjadi terutama di lingkungan sekolah. Guru sebagai figur yang senantiasa mendampingi anak di sekolah perlu diberikan wawasan dan keterampilan untuk mencegah dan menangani korban maupun pelaku bullying. Maka, peserta dari acara ini adalah guru-guru sejumlah 31 orang yang berasal dari sekolah-sekolah di sekitar UIN Jakarta. Diantaranya adalah Mumtaza, MIN Cempaka Putih, SDI Ruhama, SMP Nusantara, SMPN 3 Tangsel, dan skeolah-sekolah lainnya.

Narasumber dari acara ini adalah seorang psikolog bernama Hanlie Muliani, M.Psi, Psi yang juga merupakan praktisi bullying. Beliau merupakan pendiri dari SOA (Sahabat Orangtua Anak), sebuah biro psikologi dan pendidikan di daerah Serpong. Dalam paparannya, ibu Hanlie menjelaskan apa itu bullying, posisi bullying Negara Indonesia dibandingkan Negara lainnya, bentuk-bentuk bullying, perilaku bullying dan juga perbedaan bullying antara anak laki-laki dan perempuan. Menurut beliau,perilaku bullying muncul di setiap sekolah jenis apapun. Baik itu sekolah besar atau sekolah kecil, sekolah berlandaskan agama atau sekolah umum, sekolah internasional atau sekolah nasional, sekolah berbasis gender ataupun tidak berbasis gender, semuanya mengalami kejadian bullying.

Diskusi ini berjalan serius namun santai. Para peserta berperan aktif dalam diskusi ini. Para peserta juga dipersilahkan untuk bertanya kapanpun. Peserta sangat antusias mengikuti sesi ini. Hal itu dapat dilihat dari banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh peserta. Mereka berkonsultasi mengenai kasuks-kasus yang ditemui di sekolahnya. Pemaparan dari narasumber sekaligus menjadi pembelajaran bagi sekolah lainnya.

Yang membuat acara ini semakin menarik adalah ketika narasumber mengajarkan para peserta untuk membuat ABC diagram. Hal tersebut merupakan pencegahan dan penanganan peristiwa bullying. Dengan tips ini, para guru langsung mencoba dan mepraktekkan disertai contoh-contoh bagaimana mereka harus melakukannya nanti di sekolah. Dengan adanya contoh dan praktk ini, para peserta memiliki keterampilan baru yang dapat mereka praktekkan di sekolah. Ibu Hanlie mengajarkan bagaimana guru dapat melakukan prevention class di sekolahnya masing-masing. Kelas tersebut harus dibedakan anatara anak laki-laki dan anak perempuan karena jenis bully yang berbeda.

Dengan keterampilan guru yang bertambah mengenai pencegahan dan penanganan bullying, paling tidak diharapkan kejadian bullying di sekolah mereka makin berkurang dan makin lama makin hilang. Dengan mencegah bullying, berarti dapat mencegah anak-anak yang menjadi takut, depresi, murung, trauma, tidak mau sekolah yang dapat mengakibatkan prestasi belajar menurun.

Acara seperti ini perlu dilakukan lagi dan disebarkan sebanyak-banyaknya dan seluas-luasnya agar anak-anak Indonesia menjadi anak-anak yang hebat, berprestasi dan bahagia.