Agenda yang tersisa dari MDG’s

 

Pusat Studi Gender dan Anka (PSGA) pada hari Selasa, 26 Mei 2015 di Syahida Inn UIN Jakarta mengadakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) “Agenda yang Tersisa Dari MDGs (Millenium Development Goals)” Kegiatan FGD yang dihadiri oleh 30 peserta yang berasal dari PKWG UI, PSW UMJ, PSW IPB, perwakilan PMII, HMI, STAINU, mahasiswa aktivis gender dari program Magister UIN, mahasiswa S1 UIN, dan dosen UIN dari berbagai fakultas. Acara ini menghadirkan 3 Narasumber, yiatu Prof. Dr. Ikeu Tanziha, Dr. Rumtini dan Jasmine P. Puteri.

Sesuai dengan yang dijelaskan dalam sambutanya, ketua PSGA, Rahmi Purnomowati, SP., M.Si., FGD ini adalah untuk membahas tema mengenai Agenda yang belum terseleasikan atau Pekerjaan Rumah dari MDG’s. Beberapa hal yg menjadi fokus bahasan yaitu mengenai kesehatan, pendidikan dan lingkungan hidup.

Program MDGs memiliki program kelanjutan yaitu SDGs (Sustainable Development Goals) untuk tahun 2016 – 2030. SDGs ini, menurut Prof. Dr. Ikeu Tanziha, Guru Besar IPB, merupakan program yang kegiatanya meneruskan agenda-agenda MDGs sekaligus menindaklanjuti program yang belum selesai. Bidang kesehatan yang menjadi sorotan adalah sebaran balita kurang gizi di Indonesia, proporsi balita pendek, status gizi anak, tingkat kematian ibu, pola konsumsi pangan pokok, dan sebagainya.

Dalam bidang Pendidikan yang dipaparkan oleh Dr. Rumtini, anggota Balitbang Kemdikbud dan LPDP. Pertama, Ia menyampaikan capaian program bidang pendidikan, seperti adanya program subsidi netral gender yang diperkenalkan oleh pemerintah Indonesia seperti BOS, beasiswa miskin dan keluarga harapan, serta peningkatan kesediaan sekolah melalui pembangunan sekolah baru dan perluasan sekolah yang ada. Selanjutnya, Dr. Rumtini memaparkan data-data terkait dengan perbandingan laki-laki dan perempuan yang bersekolah, perbandingan guru, dan perbandingan yang mendapatkan beasiswa dari LPDP. Di akhir pemaparan, ia menyampaikan bahwa masih banyak agenda tersisa dari MDGS terkait bidang pendidikan yang kemudian membutuhkan kajian lebih lanjut dan program intervensi terkait sosial konstruksi.

Lingkungan Hidup menjadi bahasan terakhir dalam FGD ini, disampaikan oleh Jasmine P. Puteri dari LSM Kemitraan, divisi Forest Governance Program Officer. Sebagai peneliti muda yang banyak terjun langsung ke lapangan, Ia menyampaikan tentang upaya melanjutkan proses pembaruan tata kelola hutan dalam rangka mengatasi perubahan iklim. Sesuai dengan divisi yang ia tempati, Forest Governance Program bertujuan untuk mendukung pendanaan dan teknis kerjasama multipihak dalam rangka perbaikan tata kepemerintahan kehutanan dan meningkatkan manfaat yang berkeadilan bagi pemangku kepentingan hutan dan keberlanjutan pengelolaan sumberdaya hutan.

Setelah ketiga narasumber memaparkan materi, acara dilanjutkan dengan diskusi. Diskusi berjalan cukup menarik, terlihat dari pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh peserta dan penyampaian gagasan-gagasan dari narasumber dan peserta mengenai tema yang sedang dibicarakan.

Selanjutnya, masing-masing peserta menuliskan ide di lembaran kertas yang disediakan mengenai apa yang bisa dilakukan dirinya sebagai individu ataupun lembaganya untuk berkontribusi dalam menyelesaikan agenda yang tersisa dari MDGs yang akan segera berakhir. Salah satu rekomendasi dari Prof Ikeu yaitu mengenai penelitian dengan tema obesity, surveilans gizi dan gender dalam penanggulangan permasalahan gizi dan kesehatan yang cukup mendesak.