Workshop Pra-nikah “Membangun Keluarga Bahagia, Mewujudkan Generasi Berkualitas”

Pusat Studi Gender pada hari Rabu, 17 September 2014 mengadakan Workshop Pra-nikah dengan tema “Membangun Keluarga Bahagia, Mewujudkan Generasi Berkualitas”. Acara yang diadakan di Gedung Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran akan pentingnya pendidikan pra-nikah bagi para mahasiswa dalam mempersiapkan bekal membangun keluarga. Meskipun acara ini hanya sebatas workshop sehari, namun pesan dan isi yang disampaikan merupakan hal yang penting bagi para mahasiswa dalam mempersiapkan masa depan kehidupan berkeluarga.

Peserta antusias mengikuti workshop, hal itu terlihat dari jumlah peserta yang melebihi kuota ruangan yang disediakan. Penuhnya peserta pada acara ini tidak terlepas dari tema acara yang menarik dan penting. Materi disajikan oleh para narasumber yang memang kompeten dibidang ini. Tiga narasumber pada acara ini adalah Drs. Edi Muin, MSi dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN); Dr. Faizah Sibrolimasi, pakar tafsir dari UIN Jakarta; dan Sitti Evangeline, M.Si.Psi., psikolog muda UIN Jakarta.

Acara yang dilakukan selama sehari ini dibagi ke dalam dua sesi. Sesi pertama dari pukul 10.00-12.00WIB diisi oleh Bapak Edi yang menjelaskan tentang “Kebijakan Pemerintah dalam Mempersiapkan Keluarga Ramah Anak”. Sebagai bagian dari pemerintah yang membidangi program Keluarga Berencana, Pak Edi menekankan agar para pemuda (mahasiswa) yang akan membangun sebuah keluarga diperlukan pembekalan guna mengetahui fungsi dari sebuah keluarga yang meliputi Agama, Budaya, Cinta dan Kasih Sayang, Perlindungan, Reproduksi, Sosial dan Pendidikan, Ekonomi, serta Lingkungan.

Sesi kedua dimulai pukul 13.00 WIB setelah istirahat. Dua narasumber pada sesi ini yaitu Ibu Faizah dan Ibu Evangeline. Penyampaian materi dilakukan bergantian, terlebih dahulu Ibu Faizah menyampaikan materi yang berjudul “Kiat-kiat Memilih Pasangan Menuju Perkawinan Bahagia”. Beradasarkan penyampaian Bu Evangeline, kiat-kiat untuk membangun keluarga bahagia, pertama-tama harus mengetahui tujuan dari sebuah perkawinan. Tujuan perkawinan dapat dicapai melalui fungsi-fungsi perkawianan yaitu fungsi reproduksi, fungsi keagamaan, fungsi sosial budaya dan fungsi pembinaan lingkungan. Kiat kedua adalah memilih pasangan. Kriteria dalam memilih calon pasangan baik calon istri maupun calon suami. Asas memilih calon suami berdasar pada agama dan akhlak, sehat jasmani, dan bertanggung jawab. Asas memilih calon istri pun tidak jauh beda yaitu atas dasar agama, keturunan, sehat jasmani, dan menghindari perkawinan dengan kerabat yang terdekat.

Pembentukan keluarga bahagia juga tidak terlepas dari pendidikan bagi calon ibu dan calon ayah. Pendidikan yang terdapat dalam Islam adalah konsep pendidikan yang menyeluruh yang tidak hanya pada pembangunan aspek keduniaan dan materi saja, tetapi juga mencakup aspek ruhiyah dan akhirat. Keseimbangan dan keselarasan atara ruh dan jasad, antara ilmu dan akhlak, akan melahirkan generasi bangsa yang berkualitas. Pendidikan bagi calon orang tua sangat diperlukan karena memberi pengetahuan tentang anak, merawar anak dan penyambung tali kebahagiaan. Pendidikan orang tua bukanlah pendidikan formal yang ada di sekolah-sekolah namun ada di sekitar kita karena sekolah orang tua adalah sekolah kehidupan.

Pemateri berikutnya Bu Evangeline, menyajikan tentang cara mempersiapkan pernikahan dari segi psikologi. Secara runut dijelaskan dari hal-hal yang perlu dipersiapkan sebelum pernikahan seperti mengenai niat dari menikah, hambatan yang akan dihadapi dan kriteria pasangan. Kemudian permasalahan saat menjalani kehidupan berumah tangga sampai dengan solusi dari permasalahan yang dihadapi.

Pada umumnya tujuan dari orang Islam melakukan perkawinan adalah untuk melaksanakan sunah Rasul lalu tujuan selanjutnya adalah untuk melanjutkan keturunan, memperoleh ketenangan jiwa, menjaga harga diri dan kehormatan serta menjauhkan perbuatan haram dan menghalalkan syahwat. Menurutnya, jika seseorang telah mengetahui tujuan dari perkawinan maka dalam menjalani kehidupan rumah tangga akan menjadi terarah.

Sebelum memasuki tahap pernikahan, setiap orang akan berpikir untuk memilih pasangan. Penentuan pasangan orang yang satu dengan yang lain memiliki perbedaan kriteria. Kriteria-kriteria itu meliputi latar belakang keluarga, agama, sifat, penampilan dan kesehatan, pendidikan, lingkungan atau pergaulan, keterampilan, pengetahuan, dan ulet mencari rezeki. Kriteria tersebut memang penting dalam menentukan calon pasangan untuk dijadikan teman hidup, namun hal itu bukan berarti apabila dalam menemui permasalahan rumah tangga akan mudah teratasi begitu saja karena setiap permasalan memiliki pendekatan tersendiri untuk menyelesaikanya.

Permasalahan yang sering ditemui dalam rumah tangga adalah perbedaan dalam pengertian dan harapan. Perkembangan zaman mempengaruhi pola tugas dari laki-laki (suami) dan perempuan (istri) berbeda. Perempuan mampu menghidupi diri dan saling mengasuh. Permasalahan juga timbul dari kurangnya komunikasi atau tidak mampu menyampaikan komunikasi dengan baik. Solusi dari permasalahan rumah tangga tersebut adalah dengan memperbaiki komunikasi (cara, kemampuan mengungkapkan emosi dengan benar dll) dan memperbaiki sikap masing-masing (kemampuan berfikir analitis, kemampuan merasa, kemampuan mengambil keputusan dan memecahkan masalah).

Penjelasan yang menarik dari para narasumber membuat peserta tampak menikmati acara workshop ini, apalagi hampir seluruh peserta merupakan mahasiswa alias belum menikah atau berkeluarga. Diantara mereka pun ada yang mengajukan pertanyaan mengenai usia ideal untuk menikah, menyelesaikan ego antara suami istri, juga mengenai menghindari perceraian dalam membina rumah tangga serta beberapa pertanyaan yang menyangkut masalah anak muda. Semua pertanyaan mendapat jawaban dari narasumber dengan memuaskan.

Demikian gambaran dari jalannya Workshop Pendidikan Pra-Nikah yang telah dilaksanakan, semoga bermanfaat baik dalam kehidupan akademik maupun kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat. Amin.