FGD Difabel “Mewujudkan Keadilan Bagi Kelompok Difabel”

Focus Group Discussion (FGD) Difabel dengan tema “Mewujudkan Keadilan Bagi Kelompok Difabel” diselenggarakan pada Rabu, 7 Mei 2014 di Ruang Sidang Utama lantai 2 Gedung Rektorat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Kegiatan yang diikuti Dosen, Karyawan dan Mahasiswa dibuka oleh wakil dekan bidang akademik, Prof. Dr. H. Moh. Matsna HS., MA. Pada kesempatan itu, Prof. Matsna memberikan sambutan tentang kesempatan bagi kelompok difabel untuk menempuh pendidikan di UIN Jakarta meskipun pada kenyataanya fasilitas bagi kelompok difabel belum dapat terpenuhi. Selanjutnya, Prof. Matsna akan berusaha untuk merencanakan usulan pembangunan fasilitas bagi kelompok difabel yang berkuliah di UIN Jakarta agar kegiatan pembelajaran bisa berjalan dengan baik.

Narasumber dalam kegiatan ini adalah Dr. dr. Syarif Hasan Lutfie (Dosen Fak. Kedokteran dan Ilmu Kesehatan) dan DR. Ro’fah (Dosen UIN Yogyajakarta) serta dimoderatori oleh Siti Napsiyah, MSW.

Dr. Syarif memaparkan tentang “Peran Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi dalam Kasus Tumbuh Kembang Anak”. Pada proses tumbuh-kembang anak sering mengalami persoalan-persoalan seperti Retardasi Mental, Gangguan Perilaku/Emosional, Disabilitas Fisik dan lain-lain. Khusus dalam persoalan disabilitas sering terjadi dalam bentuk Palsi Selebral dan Down Syndrom. Sisi medis dalam penanganan bagi penyandang disabilitas adalah dengan melakukan terapi dengan meningkatkan komponen; meningkatkan aktifitas fungsional; modifikasi lingkungan; mencegah terjadinya disabilitas dan handicap; meningkatkan aktualisasi diri; membangkitkan interaksi positif; dan merekomendasikan cara mengasuh dan merawat anak.

Pada akhir pemaparan, Dr. Syarif menyimpulkan bahwa keberhasilan program tumbuh kembang anak ditunjang oleh pemilihan, pendekatan, metode, teknik, dan media yang akan digunakan serta didasarkan pada pemeriksaan yang mendetail, diagnosa yang tepat dan dilakukan secara professional, melalui penatalaksanaan program pelayanan kesehatan multidisiplin dan holistik.

Selanjutnya, pemaparan dari narasumber Dr. Ro’fah memberikan pemahaman awal mengenai disabilitas yang mengalami pergeseran makna dari sebuah problem kesehatan/ kekurangan individu menjadi produk dari masyarakat dan lingkungan yang mencacatkan “disabling”. Adapun penyebab difabel dari sudut budaya yang berkembang adalah sebagai hukum karma dari dosa yang dilakukan oleh orang tuanya, akibat dari guna-guna dan akibat dari kecelakaan. Dari sudut agama Kristen, difabel disebabkan menantang konsep agama, penyandang difabel adalah orang yang tidak suci dan dilarang mengikuti ritual agama. Sedangkan dari sudut agama Islam, difabel tidak dijelaskan secara eksplisit namun hanya dikategorikan kedalam orang-orang yang lemah. Islam juga tidak melihat dari fisik dan mental tapi dari keimananya.

Dr. Ro’ah yang juga sebagai dosen di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta memberikan gambaran keberadaan Pusat Studi dan Layanan Difabel (PSLD) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Keberadaan PSLD adalah langkah-langkah pemenuhan hak untuk difabel sesuai dengan amanat UU Sisdiknas karena perguruan tinggi merupakan penyelenggara layanan publik yang secara legal memiliki kewajiban untuk menyediakan aksesibilitas dan menjamin pemenuhan hak. PSLD memberikan layanan pendampingan (berupa penentuan jurusan, admisi, ujian masuk dan aktivitas belajar) dan teknologi bantu (berupa software pembaca layar, mesin pembesar font, buku braile, digital dan audio).

Panel diskusi cukup menarik hal itu terlihat dari keaktifan forum FGD baik dalam menyampaikan pertanyaan maupun tanggapan. Pertanyaan yang diajukan antara lain mengenai usaha-usaha pemerintah dalam merealisasikan UU Sisdiknas tentang disabilitas dalam pendidikan khususnya kampus inklusi. Juga beberapa pernyataan mengenai fasilitas bagi dosen penyandang Difabel yang belum terpenuhi di UIN Jakarta.

Kegiatan FGD ini memberikan rekomendasi atau usulan untuk disampaikan kepada Rektor UIN Jakarta. Rekomendasi itu berisi tentang (1) Mendesak pimpinan untuk menetapkan UIN Jakarta sebagai kampus inklusif (2) Mendesak pimpinan UIN Jakarta untuk membentuk Pusat Studi dan Layanan Disabilitas. Rekomendasi yang diketuai oleh Siti Napsiyah, MSW ini sebagai bentuk dari keseriusan dan konsen terhadap kelompok Difabel.

Demikian gambaran dari jalanya FGD Difabel “Mewujudkan Keadilan bagi Kelompok Difabel”. Semua yang telah dilakukan dalam FGD tersebut menjadi sebuah langkah dalam mewujudkan kampus yang ramah disabilitas. Semoga menginspirasi dan bermanfaat bagi kita semua.