Pengarusutamaan Gender Bagi Organisasi Kemahasiswaan

PSGA UINJakarta_ Ciputat, Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Focus Group Discussion (FGD ) tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) bagi seluruh Organisasi Internal Kemahasiswaan UIN Jakarta di Diorama, Rabu ( 22/ 03).

Acara yang diperuntukan bagi Himpunan Mahasiswa Jurusan, Dewan Eksekutif Mahasiswa, Senat Mahasiswa dan UKM bertujuan agar setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh jajaran Organisasi Mahasiswa berkeadilan dan berkesetaraan gender.

“Adanya FGD ini tak lain agar setiap kegiatan Mahasiswa tidak bias gender, tapi dapat mewujudkan keadilan gender dan kesetaraan gender,” Ujar Ketua PSGA, Rahmi Purnomowati dengan penuh  semangat.

Terselenggaranya acara ini dipandang perlu dan sangat bagus agar Mahasiswa dan Mahasiswi dapat saling berkompetensi dalam prestasi dan berbuat kebaikan, dan mampu saling menghargai setiap perbedaan kodrati.

“Saya sangat mendukung acara ini, agar pula keterwakilan Perempuan di ranah Organisasi lebih banyak dan baik,” ujar Zaenal Arifin, selaku Kepala Biro AAK saat membuka Acara FGD Pengarusutamaan Gender  mewakili Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Yusran Razak.

Kegiatan yang dimulai pada Pkl. 08.30 WIB tersebut terbagi pada dua sesi. Sesi pertama menghadirkan tiga Narasumber yang diawali oleh Dr. Nur Arfiyah Febriani, MA yang menjelaskan tenatang Gender dalam Perspektif Islam, beliau banyak mengambil referensi dari bukunya Saciko Murata yang berjudul “The Tao of Islam”. “Bahwa dalam Islam sudah bukan lagi berbicara tentang kesetaraan akan tetapi lebih dinamis, yakni tentang kosmologi yang dalam hal ini dapat disederhanakan dengan Karakter, seperti halnya terkait pemilihan warna untuk anak kecil Pink untuk perempuan dan Biru untuk laki-laki. Dalam al- Quran surat Ad Zariyat diciptakan dengan berpasang – pasangan untuk saling akur dan menghargai”, ujarnya dengan bijaksana.

Para peserta terlihat sangat senang dan berpartisipasi aktif dalam setiap sesi pembicara, Peserta yang memnuhi keadilan gender dan seimbang antara laki – laki dan Perempuan sebagai contoh untuk kegiatan Organisasi Kemahasiswaan.

“Keadilan Gender : Suatu proses yang seimbang antara laki – laki dan permepuan memperoleh akses, partisipasi kontrol dalam satu kegiatan, misalnya dalam kegiatan laki – laki hanya menerima manfaat hanya laki – laki atau permpuan saja maka belum berkeadilan gender, karena selain pembedaan secara sex adapula peran – peran yang diciptakan dari realsi sosial yang pada akhirnya emmunculkan peran – peran gender, maka harus adanya keadialn gender” Ujar Ketua PSGA, Rahmi Purnomowati dengan semangat.

Selain pemaparan teori yang diberikan, kegiatan ini juga memberikan pemaparan implementasi yang disampaikan oleh Nayla Fitria, Mahasiswi lulusan Fakultas Dirasat islamiyah yang saat ini aktif menjadi Aktifis di Komnas Perempuan. Menurutnya, “dalam mahasiswa seharusnya ada keseimbangan antara kajian dan organisasi, dan buka buku agar mempunyai pemikiran yang open mind, tidak terkungkung dan hanya ikut–ikutan.”

Bahwa dunia remaja yang juga memasuki masa dewasa tidak hilang lekang dari gadget, untuk pemaparan terkait perempuan yang dijadikan alat oleh Kapitalis untuk mencari keuntungan yang sebesar – besarnya juga disuguhkan oleh Lilik Sumarni. “Di media massa banyak sekali perempuan dijadikan objek sebagi alat intrik–intrik politik, hasil konstruksinya bahwa perempuan hanya dijadikan alatnya media untuk melanggengkan sebuah tujuan”, Ujarnya yang saat ini menjabat sebagai Ketua PSGA UMJ dan ahli dibidang Komunikasi tersebut.

Untuk meningkatkan teamwork yang berperspektif gender, PSGA UIN Jakarta juga menyuguhkan Motivator energik, Supardi Lee. Dalam paparanya Supardi Lee menyebutkan bahwa sebuah organisasi harus punya misi dan prestasi. Adapun proses menjadi dinamika untuk mencapai misi tersebut, proses itu harus ada batasan dan ukurannya, agar prestasi dan visi nya harus juga sesuai.